indonesia-1203250_1280_300Perjuangan emansipasi wanita oleh Ibu RA Kartini telah membuahkan hasil. Dulu wanita dianggap ‘konco wingking’. Artinya wanita hanya berkedudukan di rumah dan tugasnya memasak dan mencuci. Tugas mencari uang adalah suami. Sehingga wanita tidak mendapat tempat untuk bekerja di luar rumah.

Namun kini wanita hampir dapat bekerja di semua lini. Bisa jadi tentara, polisi, dokter, bupati, gubernur, menteri bahkan presiden. Bekerja di gunung, pantai, sekolah atau gedung perkantoran.

Namun budaya Indonesia ternyata masih belum ditinggalkan, sehingga wanita karier di Indonesia menghadapi masalah yang sangat berat. Karena selain menjalankan kariernya, wanita karier Indonesia masih harus menjalankan tugas rumah tangga: mengurus suami, anak, makanan, keluarga, pendidikan anak dan lainnya.

Hal inilah yang menyebabkan wanita karier Indonesia rentan terhadap stres. Demikian yang diutarakan oleh dr Ivan Sini, Kepala Program Bayi Tabung Rumah Sakit Bunda Jakarta, yang dikutip oleh Kompas Female, Kamis (22/10/2009). “Problem wanita karier itu sangat kompleks,” ujarnya.

Akibat stres, dia menjelaskan, ada data yang menunjukkan bahwa hampir 40% wanita karier Indonesia pernah bersentuhan dengan rokok. Demikian juga konsumsi alkohol. Level stres juga semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Tentu kita prihatin dengan situasi demikian. Karena dampaknya bisa buruk. Pertama, bisa pada keluarga. Ibu/istri yang stres akan sering marah-marah di rumah. Juga pada suami. Perhatian pada keluarga bisa berkurang dan jadinya tidak terurus. Kedua, bisa berakibat buruk pada kesehatannya. Mereka bisa terganggu kesuburannya, sehingga susah memiliki anak bahkan mandul.

Lalu apa yang dapat dilakukan oleh wanita karier Indonesia?

  1. Istri hanyalah pendukung
    Katakan pada suami, bahwa wanita hanyalah pendukung atau mencari penghasilan tambahan. Tanggung jawab utama mencari penghasilan adalah bapak/suami. Jadi dengan begini harusnya wanita tidak terbebani tanggung jawab yang berat.
  2. Bekerja sama
    Minta pengertian pada suami dan anak, untuk bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga bukanlah tanggung jawab sepenuhnya ibu/istri. Minta suami dan anak berbagi peran dan tanggung jawab, misal: suami bagian menyapu, mengepel dan mencuci, anak bagian menyapu halaman dan membuang sampah dan seterusnya. *(my/20160420)