Batasan Dalam Menggosip

Home / Artikel / SDM (Sumber Daya Manusia) / Batasan Dalam Menggosip

gossip-532012_300Berkumpul dengan orang lain seperti kehidupan di kantor, tidak mungkin tidak ada percakapan. Pasti suatu saat Anda akan melakukan percakapan. Dari ngobrol yang ringan, diskusi yang berat, meeting yang serius sampai bergosip yang seru. Kalau terkait dengan pekerjaan mungkin tidak terlalu masalah. Bagaimana dengan membicarakan di luar pekerjaan? Itulah yang dinamakan gosip.

Menggosip memang menyenangkan untuk dilakukan. Sebaliknya menyakitkan sebagai obyek yang digosipkan. Sebenarnya menggosip memiliki dampak buruk, terlebih kalau kantor Anda tidak terlalu besar. Karena lambat laun yang digosipkan akan tahu.

Karena itu perlu mengetahui batasannya bergosip. Jangan sampai gosipan Anda mempengaruhi kehidupan profesional dan karier Anda. Lalu apa yang menjadi batasannya?

Batasannya adalah saat Anda mulai membicarakan karakter seseorang. Karena saat membicarakan karakter, berarti lebih banyak subyektivitas yang dikeluarkan. Ini menjurus ke fitnah. Dan tentu saja merugikan obyek gosip bila demikian apalagi kalau fitnahnya tidak benar.

Karena itu berhentilah bergosip saat Anda mulai merasakan percakapan yang Anda lakukan seperti ini:

  1. Menyadari apa yang diperbincangkan tidak benar atau ragu benar tidaknya.
  2. Menyadari informasi yang Anda dapat dari orang lain tidak benar atau ragu benar tidaknya, tapi Anda tidak mau repot mengecek kebenarannya.
  3. Menyadari informasi yang Anda sampaikan terlalu luas, terlalu umum dan tidak spesifik.

Di samping mengetahui batasan gosip seperti di atas, Anda juga harus mengetahui topik-topik pembicaraan yang biasanya menjurus jadi gosip. Bila Anda sudah membahas tentang hal ini, lebih baik Anda hentikan. Berikut topik-topik yang harus dihindari:

  1. Perilaku yang tidak baik.
    Berhenti membicarakan perilaku seseorang yang tidak baik, bahkan cenderung ke kriminalitas. Hal ini bisa menyangkut hal di luar kantor, seperti malpraktik profesional, penyuapan, korupsi dan lainnya.
  2. Narkoba dan minuman keras.
    Hindari membicarakan sesuatu terkait narkotika, kecanduan obat-obatan dan minuman keras.
  3. Selingkuh
    Tidak usah membahas sesuatu yang bersifat ketidak-setiaan seperti selingkuh dalam pernikahan atau bekerja di perusahaan lain.
  4. Perilaku menyimpang.
    Memang enak membicarakan perilaku menyimpang orang lain. Tapi ini sebenarnya aib yang harus dihindari, misal: perilaku seksual seseorang yang menyimpang.
  5. Penyakit atau informasi kesehatan
    Tiap-tiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk penyakit atau informasi kesehatan yang berbeda dengan orang umum kebanyakan. Membicarakan penyakit seseorang, yang biasanya disimpan erat-erat oleh sang penderita, lebih banyak gosipnya daripada kebenarannya.
  6. Informasi buruk seputar pekerjaannya.
    Ini sebenarnya paling banyak dilakukan oleh pekerja yakni membicarakan hasil buruk teman lain, misal: evaluasi buruk dari atasan, mau dipecat, kontrak tidak diperpanjang dan lainnya.
  7. Seksualitas.
    Ini biasanya menjadi bahan candaan, namun yang jadi obyek gosip akan lebih tersakiti. Seperti contoh kasus pelecehan seksual dengan kata oleh beberapa penumpang pesawat Garuda. Saat itu seorang pramugari menawarkan minum: teh, kopi atau susu? Jawaban penumpang adalah susu. Temannya yang mendengar jawaban ini mencandainya dengan menanyakan: kanan atau kiri? Lalu mereka tertawa bareng. Candaan kelewatan ini menyakitkan bagi sang pramugari sehingga melaporkan ke pihak berwenang. Akibatnya para penumpang itu ditahan.

Hal-hal tersebut di atas bisa menjadi panduan agar Anda tidak menggosipkan orang lain. Meski kadang Anda hanya bermaksud bercanda, tidak semua obyek gosip menganggapnya lucu seperti kasus Garuda di atas. Maka lebih baik Anda menjaga percakapaan Anda. Hentikan obrolan Anda atau alihkan ke topik lain, kalau sudah masuk ke gosip. Selamat mencoba! *(my/20160616)

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: