construction-646914_1920_300Tapi kalau memang, tidak ada sesuatu yang bisa dicari atau dipaksakan hal positif dalam pekerjaan kita, kenapa tidak ‘resigned’ saja? Kenapa kita tetap ngotot dan bertahan pada sesuatu yang membuat kita tidak berbahagia? “Hidup terlalu singkat kalau kita bertahan pada sesuatu yang tidak menyenangkan seperti ini,” kata Kevin dalam film ‘Home Alone’.

Setiap orang ingin hidup bahagia. Siapapun itu. Entah yang tinggal di negeri Barat, Timur Tengah atau Timur Jauh. Baik di hutan, gunung atau pantai. Di desa, gurun pasir atau perkotaan. Karena itu sejak dulu, manusia mencari apa rahasia hidup bahagia. Entah dengan merenung, bertanya atau mendasarkan agama.

Yang menarik, banyak orang Barat mencarinya dengan melakukan secara ilmiah. Karena itu mereka melakukan banyak riset. Salah satu hasil risetnya, saya baca kemarin di ‘Time’ yang dikutip oleh Kompas Online.

Peneliti itu adalah Karl Pillemer dari Universitas Cornell. Dia mewawancarai hampir 1.500 orang berusia 70-100 tahun. Dia melakukan banyak pertanyaan ke mereka tentang pelajaran hidup dalam pernikahan, pola asuh anak dan kebahagiaan.

Hasilnya patut direnungkan. Mereka yang hidup paling bahagia, hampir mayoritas menjawab salah satu kunci hidup bahagia adalah jangan bertahan dalam pekerjaan yang tidak disukai.

“Menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pekerjaan yang tidak disukai adalah resep untuk penyesalan dan kesalahan besar,” tulis Pillmer dalam bukunya “30 Lessons for Living: Tried and True Advice from the Wisest Americans”.

Membaca kesimpulan ini saya teringat dengan seorang teman yang tersiksa dalam pekerjaannya. Setiap kali bertemu dengannya, dia selalu mengeluh akan pekerjaannya. Kapan hari mengeluh pimpinannya. Kapan hari mengeluh banyaknya pekerjaan. Kapan hari mengeluh teman kerjanya. Kapan hari mengeluh gajinya yang kurang. Dan demikian terus setiap bertemu.

Saya yang mendengar keluhan-keluhan seperti ini, pernah suatu ketika menyuruhnya untuk keluar saja dari pekerjaannya sekarang. Mencari pekerjaan lain. Kalau perlu pindah kantor. Kalau perlu pindah kota, propinsi bahkan negara!

Mendengar saran saya yang mungkin keluar karena saking jengkelnya saya dengan keluhannya ini, dia tampak terkejut. “Ya, tidak bisa seperti itu, Suf,” katanya, “Tidak semudah itu mencari pekerjaan.” Dan mulailah dia memberi alasan ini itu.

Anehnya sampai saya bertemu terakhir dengannya, dia tetap bekerja di pekerjaan sama. Dan tetap mengeluh.

Saya pikir, dia salah satu orang yang tidak bahagia dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Bekerja hampir memakan waktu hidup kita. Apalagi hidup di kota, yang perjalanan berangkat dan pulang kantor menambah memakan waktu karena jauh dan macet. Kalau dalam waktu bekerjanya dia tidak bahagia, otomatis dia tidak bahagia dalam hidupnya.

Tentu ada pertanyaan, kalau faktanya seperti itu bagaimana kita bisa mencari bahagia dalam pekerjaan yang memang tidak menyenangkan seperti itu…?

Caranya sebenarnya mudah. Yakni: selalu mencari sisi positif atau sesuatu yang bermanfaat/berguna dari pekerjaan kita.

Saat saya bekerja di SCTV dulu, sebagai ‘fresh graduate’ yang paling yunior, saya harus siap banyak menerima ;’pelimpahan pekerjaan’ dari para senior. Saya sudah tidak bisa menolak, ini bukan ‘job description’-ku atau tidak.

Tambahan pekerjaan itu bisa berarti harus bekerja di sebuah ruang yang sepi. Atau harus berhubungan dengan orang-orang departmen lain. Atau terpaksa belajar lagi tentang sesuatu yang bukan bidang dari departemen saya, misal belajar teknik.

Semua saya lakukan dengan mengambil sisi positifnya. Berhubungan dengan orang-orang departemen lain, membuat saya tambah teman. Teman saya bukan hanya 1 departemen atau tetangga departemen, tapi bisa departemen lain yang jauh. Bahkan beda gedung. Keuntungan banyak teman ini kelak mempertemukan dengan jodoh saya. Hehehe.

Keuntungan belajar baru, saya bertambah ilmu. Saya yang ‘background’ pendidikan ilmu Komunikasi yang bekerja sebidang yakni membuat iklan, jadi paham tentang komputer, jaringan, internet dan sistem operasi. Sesuatu yang kelak merupakan bidang rezeki saya yang baru. Meski bidang rezeki ilmu Komunikasi tetap saya pegang. Hehehe.

Saya tetap ‘happy’ meski saya selalu pulang pk 00.00. Dan sudah ngantor lagi pk 08.30. Bahkan hari Sabtu, Minggu bahkan lebaran tetap masuk kerja. Karena itu berarti uang lembur saya jadi banyak. Hehehe. (Saya pernah dipanggil karena lembur saya yang banyak. Saya katakan, saya sendiri tidak ingin lembur. Kalau tidak boleh lembur, saya oke saja. Dan bos saya membiarkan saya lembur, karena memang diperlukan lembur daripada tidak berjalan secara normal).

Tapi kalau memang, tidak ada sesuatu yang bisa dicari atau dipaksakan hal positif dalam pekerjaan kita, kenapa tidak ‘resigned’ saja? Kenapa kita tetap ngotot dan bertahan pada sesuatu yang membuat kita tidak berbahagia? “Hidup terlalu singkat kalau kita bertahan pada sesuatu yang tidak menyenangkan seperti ini,” kata Kevin dalam film ‘Home Alone’. Dia memberi saran penjaga keamanan rumah calon ibu tirinya yang sering tertekan dan tertidur saat bekerja (dan di akhir film, dia ‘resigned’).

Lalu bagaimana dengan orang yang bukan pekerja? Orang yang bisnis sendiri atau wiraswasta?

Sama saja. Kalau dia dalam bisnisnya merasa tertekan atau tidak bahagia, kenapa harus ngotot untuk bertahan sebagai pengusaha? Hidup terlalu singkat dengan bertahan tidak bahagia. Kalau dia bisa bahagia sebagai karyawan, kenapa tidak sebagai karyawab? Atau sebaliknya, dia tidak berbahagia sebagai karyawan tapi siapa tahu jadi pengusaha dia bisa berbahagia.

Jadi intinya, bila kita bisa berbahagia dalam usaha kita mencari rezeki, maka bahagialah kita dalam hidup. Karena waktu terbesar kita memang mencari rezeki. Selamat mencari hal positif dalam pekerjaan kita! [TSA, 9/3/2014 tengah malam] (*Mochamad Yusuf)